Catatan Duniaku

Sebuah Catatan Kecil Buat Dunia Yang Kecil

Syahadah Cinta III

Ba’da Magrib kami putuskan untuk pulang. Kami membawa kendaraan motor dari rumah. Karena memang jarak pantai beberapa kilo dari rumah. Aku yang berada di depan membawa motornya dan Endi berada di belakang aku bonceng.

Setelah selesai shalat magrib dan sepanjang perjalanan aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada orang yang membuntuti kami setelah keluar dari masjid. Aku merasa seperti punya janji terhadap seseorang. Tetapi aku lupa janji apa itu.

“Gie, kapan balik lagi ke Tangerang?” tanya Endi coba memecahkan keheningan di perjalanan.

“Besok pagi. Insya Allah.”

“Berarti ini kebersamaan kita yang terakhir?” Mimiknya sedikit kecewa

“Insya Allah pasti kita ketemu lagi.” Jawabku mencoba mengobati kecewanya.

“Ndi, kamu liat orang yang naik motor dibelakang kita nggak? Kayaknya buntutin kita dari tadi.”

“Yang mana? Nggak ada siapa-siapa koq!” Tegas Endi sambil memperhatikan kebelakang

“Liat di kaca spion. Pakaiannya serba hitam.”

Sssiiittt…

Aku hentikan kendaraan dan coba menoleh kebalakang. Dia, pria berpakaian hitam itu juga ikut berhenti dengan kendaraannya. Hatiku menjadi gelisah. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menghantuiku begitu dahsyat.

“Gie, kamu lihat apa sih?”

“Lihat dibelakang kita. Kendaraan itu juga ikut berhenti. Sepertinya memang ada sesuatu yang ia inginkan dari kita.”

“Apa? Aku nggak lihat apa-apa Gie?”

Aku tidak peduli apa tanggapan Endi. Tapi aku merasa sangat takut sekali. Aku tancap gas dengan kecepatan yang tinggi! Aku ucapkan kalimat tauhid sepanjang perjalanan.

“Laa ilaha ilallah… Laa ilaha ilallah”

“Gie.. Pelan-pelan!” Teriak Endi.

Aku tidak peduli dengan teriakan Endi. Aku perhatikan kaca spion, sepertinya dia mengimbangi kecepatanku. Aku tambah kecepatanku. Dia semakin mendekat dibelakang. Aku semakin takut tidak karuan. Aku ambil kanan mendahului beberapa kendaraan. Sesampai ditikungan, tiba-tiba muncul truk Fuso dari arah berlawanan. Dan aku tak dapat menghindari truk-fuso itu dengan kecepatan kendaraanku yang tinggi.

Endi berteriak, “GIEE…! AWAS…!”

Dan… DAR…!

Kendaraan kami menabrak truk Fuso itu. Endi terlempar jauh, dan aku terjatuh masuk kedalam kolong Fuso itu.

SSS…!

Tubuhku terasa panas seperti terbakar. Remuk seperti ada yang meremas.

“Gie… gie..” samar-samar terdengar suara Endi memanggilku

HE… AH…! HE… AH…! HE… AH…! Nafasku tersengal-sengal.

Tiba-tiba aku melihat sosok pria yang membuntuti kami tadi. Dia turun dari kendaraan dan berjalan kearahku. Semakin dekat. Semakin besar. Semakin seram. Aku tak dapat melihat wajahnya secara jelas. Aku semakin takut. Aku tersadar ternyata dia adalah Izrail. Malaikat Maut. Dia mendekatiku dan menggapai tubuhku yang remuk.

Dan tiba-tiba, semuanya menjadi gelap!

Kisah ini hanya fiktif semoga ada hikmahnya.

Wallahu alam bi shawab.

Sumber >>

4 responses to “Syahadah Cinta III

  1. Maxgrosir 26 November 2013 pukul 11:11

    Aminn semoga ada hikmah terutama bagi pembaca yang telah menyimak postingan ini walau ini hanyalah sebuah fiktif,

  2. ichanz 4 Juni 2013 pukul 20:11

    Inalillahi…. Serem tp mengingatkan kita bahwa hidup itu sementara🙂
    Nice Post ^^
    Mampir juga ya😀
    http://guenchanz.wordpress.com/category/ilmu-agama/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: