Catatan Duniaku

Sebuah Catatan Kecil Buat Dunia Yang Kecil

Menjadi Abdi Negara

Animo masyarakat yang berkembang hingga saat ini mengatakan bahwa menjadi abdi negara atau pegawai negeri adalah yang terbaik, itu bisa benar bisa juga salah. Dari tahun ke tahun ratusan bahkan ribuan orang baik dari kalangan SLTA hingga Sarjana mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri. Tingginya peminat calon pegawai negeri sipil disebabkan karena banyaknya keunggulan yang diperoleh setiap pegawai negeri baik dari segi gaji, tunjangan bahkan jenjang karir yang dijamin oleh pemerintah.

Gaji dan banyaknya yang diperoleh jika seseorang menjadi pegawai negeri sipil merupakan salah satu pengaruh yang paling besar peningkatan peminatnya dari tahun ke tahun. Tidak jarang bahkan banyak oknum yang menjadikan ini sebagai ajang bisnis, di beberapa daerah untuk menjadi pegawai negeri harus menyumbang sejumlah dana dan tidak jarang orang rela untuk mengeluarkan sejumlah uang agar menjadi seorang pegawai. Isunya di daerah penulis banyak yang menawarkan jasa untuk menjadi pegawai tentunya dengan membayar sejumlah uang tadi.

Berhubungan dengan ini, muncul satu pertanyaan “Kenapa di Indonesia sulit untuk mengurangi bahkan menghilangkan KKN (Kuliah Kerja Nyata.. eitzz.. Korupsi Kolusi dan Nepotisme)??” tidak menutup kemungkinan ini disebabkan karena dari awal untuk menjadi abdi negara harus nyogok. Paham ngak..??

Kasarnya gini, anggap saja Si Gayus..

[cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama, tempat dan kondisi kejadian, itu bukan hanya faktor kebetulan dan kesengajaan]

Pada saat gayus masuk pegawai negeri sipil dia membayar dana 100 juta rupiah ke makelar PNS, setelah lulus Gayus berpikir…

“Gaji PNS golongan IIIa sekian rupiah, tunjangan ini ditambah tunjangan itu sekian rupiah. Jika dijumlahkan = sekian rupiah. wadowww… 100 jutanya saya kapan baliknya yah..??”

100 jutanya Si Gayus mungkin bisa balik setelah mengabdi selama sekian tahun atau sampai pensiun gak balik-balik tuh duit.. rugi..rugi..

Nah, atas dasar inilah Si Gayus bermain sana sini, malak sana sini, nyisip sana sini biar 100 jutanya bisa balik dalam setahun.

Gayus berkata “gak nyesel gue bayar 100 juta dalam setahun dah balik 100 kali lipat.. hoooaa…hoooaaaa..hooooaaaa….”

THE END

itu hanya satu orang (Gayus doank), apa jadinya negara jika ternyata banyak gayus yang beredar… Masya Allah… boro-boro jadi abdi negara, negara malah di plorotin, utang nambah terus.

Fatwa yang penulis pernah baca mengatakan jika seseorang menyumbang dana untuk menjadi seorang pegawai maka gaji yang diperoleh dari pekerjaan itu adalah HARAM. Wallahu A’lam (ihhh… ngeri selama hidup makan uang haram.. kalau misalnya gajinya itu dibersihkan berdasarkan hukum islam (Zakat, Infaq dan Sadaqah).. jadi halal gak yah..???

Menjadi seorang Abdi Negara tidaklah salah asal caranya jangan salah. Hal kecil diatas menurut penulis berdampak besar bagi kehidupan hingga ke Akhirat kelak.

Jika ada pembaca yang merasa tersinggung dengan apa yang penulis tulis ini, penulis mohon maaf. Marilah kita kembali ke jalan kebenaran seraya berdo’a kepada Sang Pemberi Petunjuk agar kita selalu berada dalam bimbingan-Nya. Amien..

Kisah kehidupan manusia dalam lembaran catatan kecil penulis ini bisa menjadi renungan terutama bagi penulis.

SELAMAT TAHUN BARU MASEHI 2011

Semoga diawal tahun ini segala kegiatan dan pekerjaan yang akan kita lakukan mendapat berkah dan selalu diridhoi oleh Allah SWT.

10 responses to “Menjadi Abdi Negara

  1. Pingback: Pentingnya Pembelajaran Menyenangkan Dalam Peningkatan Mutu Proses dan Hasil Belajar | Putra Kalijaga

  2. Pingback: Pentingnya Pembelajaran Menyenangkan Dalam Peningkatan Mutu Proses dan Hasil Belajar « SUAIDINMATH'S BLOG

  3. Pingback: 5 Tips Menghindari Kebaikan Di tempat Kerja « Catatan Duniaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: